ORANGES 2016 LOGO

ORANGES 2016 LOGO

OC 2012

OC 2012

Gilwell Park

Gilwell Park

Kami berjanji

Selasa, 20 November 2007

Salam Pramuka…..!!!!

Sebelumnya penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu serta memberi inspirasi & kritikan yang sangat menarik buat kami.Tema kali ini juga berasal dari kawan – kawan juga.so bacaki’ biar ga’ cupu…
Buat anak gaul istilah cupu itu singkatan dari Culun Punya atau kalo boleh saya simpulkan orang – orang katro,ndeso yang cara berpakaiannya aneh…yah itulah sedikit gambaran tentang apa itu cupu,kalo masih ga ngerti juga berarti situ katro!!
Untuk sebagian kalangan di sekolah kita yang tercinta ini,yang punya insya allah punya bangunan pencakar langit meskipun gak dicakar – cakar amat tapi lumayan bisa dibanggakan!!tapi kalo kita ingat2 gapura yang dibongkar saat ini sepertinya masih belum lama didirikan ko’ malah dibongkar!!kesannya ngabis – ngabisin duit gitu padahal bangunannya masih bagus banget iya toh…yo wes lah toh bukan urusan kita ini!!ok balik lagi ke tema,banyak kalangan yang menganggap kalo ikut pramuka itu kampungan.kalo teman – teman berpikir seperti itu..sepertinya kawan kawan harus bercermin dan tidak menilai orang dari penampilan luarnya saja.
Banyak orang yang mengaku Gaul & Fungky tapi otaknya kosong Banyak orang yang tampangnya Cakep n cantik tapi ga’ berprestasi jago ngritik orang tapi ga tau dirinya gimana!!so...ngacaQ.....
Gambar disamping hanya untuk Menggambarkan pendapat kawan – kawan apakah terlihat cupu??? Pramuka mengajarkan untuk tidak sombong atas apa yang dia miliki....karna itu mreka terlihat sederhana dlm kehidupan sehari – harinya bahkan terkesan cupu untuk kalangan tertentu.tapi coba lihat prestasi mereka di sekolah maupun diluar sekolah pasti tidaki kalah dengan siswa yang lain.
Tak terhitung sudah prestasi yang diraih oleh anggota gerakan pramuka di sekolah kita dari tingkat sekolah sampai tingkat daerah.terakhir mereka berhasil
mempertahankan piala bergilir Mabigus SMA neg. 03 Makassar untuk yang kedua kalinya..
Jadi kalo memang merasaki anak gaul manami prestasita’?masa orang katro kalahQ??Ngomong doang......
Gaul = Goblok???

Scout Today Leader Tomorrow



Salam Pramuka…..!!!!

Sebelumnya penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penerbitan selebaran ini,meskipun kecil namun sangat bermakna.selebaran kali ini bukan untuk kepentingan politik atau lainnya,sekali lagi ini adalah kreativitas seni Anggota gerakan Pramuka SMPN 04 semata…..
Masih ingat bahasan kita yang lalu??.....Kalau dalam pramuka itu harus punya jiwa pemimpin?Pramuka memang tidak sekedar berbaris tapi semua punya maksud tertentu,contoh kecil yang dapat kita lihat adalah setiap upacara bendera dihari senin umumnya anak pramukalah yang bertugas…Dan tahukah kamu???Dalam Upacara Apel Besar Pramuka Tingkat Kwartir Daerah Se – Sulawesi Selatan yang dilaksanakan di Rumah Jabatan Gubernur Sul – Sel yang dilaksanakan Tgl 18 agustus yang lalu,bertindak sebagai pemimpin upacara adalah Nurfaedah Siswa SMP Neg. 04 Makassar anggota gerakan pramuka BIMOX SCOUT MAKASSAR.Setelah melalui proses seleksi yang sangat panjang maka dua orang Anggota gerakan pramuka SMPN 04 terpilih menjadi pemimpin Upacara yaitu Nurfaedah (kls II) dan Andika Budimantana (Kls I).
Memimpin ribuan orang dari berbagai kesatuan TNI,Polri,Pramuka.didepan Gubernur Sul – Sel Bapak H. M. Amin Syam yang bertindak sebagai pembina upacara,serta pejabat – pejabat pemerintah kota,bukanlah sesuatu yang mudah,butuh kesiapan Fisik dan mental.namun ini merupakan suatu kebanggan buat kita semua Bahwa SMPN 04 Memang produsen generasi muda berjiwa pemimpin,karena pada tahun sebelumnya yang bertugas sebagai pemimpin upacara juga adalah Anggota gerakan Pramuka SMPN 04 Makassar yaitu Resky Amaliah (Kls III).
Tahukah kamu???Salah satu Calon Gubernur Sul – Sel tahun ini Syahrul Yasin Limpo adalah Seorang anak Pramuka yang juga adalah ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Sulawesi Selatan.Yach….Scout Today Leader Tomorrow…hari ini kami boleh dipandang sebelah mata hanya karena kami anak Pramuka tapi esok hari kamilah pemimpin yang tidak hanya ratusan,ribuan,bahkan jutaan orang akan kami pimpin…Insya Allah!!!!
So….janganki anggap enteng Pramuka yang hanya berbaris to’ setiap latihan!!buktinya mereka juga bisa berprestasi seperti siswa yang lain….Anak – anak pramuka juga banyak yang masuk kelas unggulan!!!iya to…..!!????
Tulisan ini juga kami persembahkan buat teman kami Andika Budimantana yang sedang terbaring dirumah sakit karena mengalami kecelakaan,sehari sebelum bertugas!!semoga cepat sembuh dan dapat melaksanakan aktivitasnya kembali…….

Salam Pramuka…………….

Pramuka itu Berbaju coklat,Berbaris,Berkemah,Menyanyi dan bertepuk tangan!!!!!!!!!!

Pramuka itu Berbaju coklat,Berbaris,Berkemah,Menyanyi dan bertepuk tangan!!!!!!!!!!

Mungkin judul diatas terlalu sempit untuk kalangan anak pramuka khususnya di sekolah yang akan jadi sekolah unggulan ini….tapi itulah realita yang terjadi!menurut mereka pramuka itu berbaris, berkemah, menyanyi dan bertepuk tangan..bahkan sebagian kalangan malahan berpendapat masuk pramuka itu jauh dari kesan gaul & tidak akan populer seperti organisasi lain yang ada…ok…disini kita akan bahas satu persatu….
Pramuka itu berbaju Cokelat…!?semenjak pertama didirikan warna pramuka memang Warna cokelat karna pramuka itu selalu bermain dialam…
Pramuka itu Berbaris….!?memang benar pramuka itu berbaris karna dengan latihan baris berbaris itu dapat melatih jiwa kepemimpinan seorang anggota gerakan pramuka dari sinilah kita belajar untuk berdisiplin dan memupuk rasa persatuan.
Pramuka itu Berkemah….!?Tentunya pendapat yang sangat benar Pramuka identik dengan kegiatan diluar ruangan Salah seribunya adalah Berkemah.karena dengan berkemah dapat melatih para pesertanya untuk dapat bertahan hidup di alam bebas,dalam keadaan bagaimanapun juga.sehingga biasa hidup mandiri tidak bergantung pada orang tua.
Pramuka itu Menyanyi dan bertepuk tangan…!?Ini juga pendapat yang sama sekali tidak salah..Pramuka Menyanyi dan Bertepuk tangan untuk membangkitkan semangat diantara anggota,Nyayian dan Tepuk tangan itu dikalangan Pramuka Disebut YEL

Dipangkalan Kebanggaan kami SMP Neg. 04 Makassar atau yang Kami sebut BIMOX SCOUT MAKASSAR,sudah sangat sering menjuarai Lomba Ketangkasan Baris berbaris,Umumnya Lomba – Lomba keterampilan seperti itu dikemas Dalam bentuk perkemahan dan dalam lomba baris berbaris itu disertai pula dengan Lomba Yel .Jadi Semua saling terkait satu sama lain memang.Pramuka memang tak menjajikan anda untuk gaul dan populer karena itu bukan tujuan utama gerakan pramuka.tujuan utama gerakan pramuka adalah membentuk pribadi yang berjiwa pemimpin,berakhlak,menjadi contoh disekolah maupun lingkungan sekitar.
Pramuka SMP Neg. 04 Makassar Tidak hanya melaksanakan kegiatan berbaris berkemah dsb.banyak kegiatan lain yang terdapat dalam gerakan Pramuka. Ada kegiatan P3K(kegiatan Yang biasa dilakukakan Oleh Palang Merah Remaja.Pendakian gunung (mountnering)kegiatan yang biasa dilakukan oleh anak anak pencinta alam.Menyanyi,Menari,Puisi,Melukis dll(kegiataan yang umumnya hanya ada di sanggar-sanggar seni.Adzan,Musabaqah,Kaligrafi(kegiatan yang biasanya hanya dilakukan oleh anak anak TPA atau pesantren?Futsal,Basket,Lari,Renang,dsb kegiatan olahraga yang lazimnya punya organisasi tersendiri juga ada dalam gerakan pramuka.Pramuka tidak monoton atau dalam kata lain tidak selalu seperti itu dari semenjak berdiri.Pramuka berkembang mengikuti perkembangan jaman.Pramuka masih tetap berdiri kokoh di era globaalisasi seperti sekarang ini.

So What??!!Kalo Pramuka Berbaris,Berkemah,Menyanyi dan bertepuk Tangan???
Osis = Pramuka….???!!!??

Judul ini tidak bermaksud untuk membandingkan kedua organisasi diatas!Penulis hanya ingin mengupas lebih dalam kedua organisasi tersebut…tidak untuk menjatuhkan atau menagangkat salah satu diantaranya…
Kita akan mulai membaahasnya satu persatu,Osis adalah singkatan dari Organisasi Siswa Intra Sekolah.dari kepanjangan itu saya kira para pembaca sudah dapat memahami apa itu Osis..Intra berarti intern atau dalam sebuah lingkungan..jadi osis adalah organisasi yang ada dalam sebuah lingkungan sekolah dan anggotanya adalah seluruh siswa dalam lingkungan atau sekolah tersebut.tidak ada indukorganisasi disini,maksudnya tidak ada satu badan yang menaungi semua osis dimasing masing sekolah.dengan kata lain organisasi osis disuatu sekolah belum tentu sama dengan osisi disekolah lain.meskipun sama – sama bernama Osis.
Berikut Pramuka adalah singkatan dari Praja Muda Karana.Mungkin hanya sebagian kalangan yang mengetahui Kepanjangan tersebut.

Kamis, 08 November 2007

DATA PELAKSANAAN KEGIATAN JAMNAS, RAIMUNA DAN PW NAS, LT V

I. JAMBORE NASIONAL
NO TAHUN TEMPAT TGL/BULAN/TAHUN KET
01. 1973 Cibubur, Jakarta 1973
02. 1977 Sibolangit, Sumut 1 S/D 20 Juli 1977
03. 1981 Cibubur, Jakarta 18 s/d 25 Juni 1981
04. 1986 Cibubur, Jakarta 21 s/d 28 Juni 1986
05. 1991 Cibubur, Jakarta 15 s/d 22 Juni 1991
06. 1996 Cibubur, Jakarta 26 s/d 4 Juli 1996
07. 2001 Baturraden, Jateng 3 s/d 12 Juli 2001
08. 2006 Jatinangor, Jabar 16 s/d 23 Juli 2006
II. RAIMUNA NASIONAL
NO TAHUN TEMPAT TGL/BULAN /TAHUN KET
01. 1969 Cimanggis, Jabar 21 s/d 26 Agustus 1969
02. 1972 Bedugul, Bali 14 s/d 23 Agustus 1972
03. 1976 Karangkates, Jatim 14 s/d 24 September 1976
04. 1982 Cibubur, Jakarta 7 s/d 14 Agustus 1982
05. 1987 Cibubur, Jakarta 14 s/d 21 Desember 1987
06. 1992 Cibubur, Jakarta 3 s/d 12 Juli 1992
07. 1997 Cibubur, Jakarta 1 s/d 10 Juli 1997
08. 2003 Prambanan, Yogjakarta 8 s/d 17 Juli 2003
III. PERKEMAHAN WIRAKARYA NASIONAL
NO TAHUN TEMPAT TGL/BLN/TAHUN KET
01. 1968 Cihideung, Jabar 1968 PW I
02. 1971 Desa Gisting, Lampung 1971 PW II
03. 1974 Kab. Pangkajane Sulsel 1974 PW III
04. 1978 Lebak Harjo, Kab Malang Jatim 1978 PW IV
05. 1983 Desa Gisting, Lampung 1983 PW V
06. 1990 Kab. Purbalingga Jateng 1990 PW VI
07. 1995 Bukit Rawi Kalteng 1995 PW VII
08. 2000 Desa Pudahoa, Kab Kendari Sulteng 2000 PW VIII
09. 2006 Pudahoa, Kab Gorontalo, Gorontalo 2006 PW IX
IV. LOMBA TINGKAT NASIONAL
NO TAHUN TEMPAT TGL/BLN/TAHUN KET
01. 1966 Cijantung, Jakarta 1 s/d 4 Agustus 1966 LT I
02. 1982 Cibubur, Jakarta 7 s/d 14 Agustus 1982 LT II
03. 1987 Cibubur, Jakarta 9 S/D 14 Agustus 1987 LT III
04. 1990 Cibubur, Jakarta 12 s/d 20 Desember 1990 LT IV
05. 1994 Cibubur, Jakarta 12 s/d 17 Desember 1994 LT V
06. 1998 Cibubur, Jakarta 5 s/d 9 Juli 1998 LT VI
07. 2002 Cibubur, Bogor, Cibodas Jakarta 5 s/d 11 Juli 2002 LT VII
08. 2007 Cibubur, Jakarta 24 s/d 30 Juli 2007 LT VIII

About Baden Powell




Robert Baden-Powell.
Robert Stephenson Smyth Baden-Powell,
1st Baron Baden-Powell
22 February 1857 – 8 January 1941

Founder of Scouting
Nickname
B-P
Place of birth
Paddington (London), England
Place of death
Nyeri, Kenya
Allegiance
British Army
Years of service
1876 – 1910
Rank
Lieutenant-General
Unit
13th Hussars in India (1876);
Assignments and commands in Southern Africa and as an Intelligence Officer, British Secret Service, based in Malta (1880s to 1897);
Inspector General of Cavalry, England (1903)
Commands
Chief of Staff, Second Matabele War (1896-97); 5th Dragoon Guards in India (1897)
Battles/wars
Anglo-Ashanti Wars; Second Matabele War; Siege of Mafeking; Second Boer War
Awards
Ashanti Star, 1895[1]; Matabele Campaign, British South Africa Company Medal, 1896[2]; Queen's South Africa Medal, 1899[3]; King's South Africa Medal, 1902[4]; Boy Scouts Silver Buffalo Award, 1926[5]; World Scout Committee Bronze Wolf, 1935[6]; Order of Merit, 1937; Order of St Michael and St George; Royal Victorian Order; Order of the Bath
Other work
Founder of the international Scouting movement; writer; artist
Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, 1st Baron Baden-Powell OM, GCMG, GCVO, KCB (22 February 1857 – 8 January 1941), also known as B-P, was a Lieutenant-General in the British Army, writer, and founder of the Scouting Movement. After having been educated at Charterhouse School, Baden-Powell joined the British Army in 1876, and was posted in India and Africa, and served three years in the British Secret Intelligence Service. In 1899, during the Second Boer War in South Africa, Baden-Powell successfully defended the city in the Siege of Mafeking. In 1910 he retired from the Army.
Baden-Powell was a prolific painter and writer. Several of his military books, written for military reconnaissance and scout training in his African years, were also used by boys. Based on those earlier books, he wrote Scouting for Boys, published in 1908 by Pearson, for youth readership. During writing, he tested his ideas through a camping trip on Brownsea Island in 1907, which is now seen as the beginning of Scouting. After his marriage with Olave St Clair Soames, he, his sister Agnes Baden-Powell and notably his wife actively gave guidance to the Scouting Movement and the Girl Guides Movement. Baden-Powell is buried in Nyeri, Kenya.
NYERI
Nyeri is a town in Kenya about 180km north of the capital Nairobi. It lies at the eastern base of the Aberdare (Nyandarua) Range that forms part of the eastern end of the Great Rift Valley and on the western side of Mount Kenya. Nyeri town is the administrative headquarters of Central Province and Nyeri District. The population was 98,908 in the 1999 census. The local scenery includes Mount Kenya. The main industry is farming. Coffee and tea are the main cash crops and maize is the staple food. There are many tourist destinations nearby.
History
In the early colonial days, Nyeri was a garrison, but it soon burgeoned into a trading centre for white farmers who produced cattle, wheat and coffee. They also came into town to drink and socialize. The White Rhino Hotel, Outspan Hotel, and the Aberdare Country Club at nearby Mweiga are living reminders of the old days. A number of renowned people have hailed from Nyeri, most notably Wangari Maathai Nobel Peace Prize winner in 2004, Mwai Kibaki Kenya's third president, Dedan Kimathi, a general in the Mau Mau war against the British colonizers, and Catherine Ndereba Olympic marathon Silver Medalist, four time Boston Marathon winner and multiple time winner of Chicago and other marathons.
The Wajee Nature Park lies just south of the town. It is now the burial place of Lord Robert Baden-Powell a hero of the Boer War and the founder of the Scouting movement. He once wrote "the nearer to Nyeri the nearer to bliss". Baden-Powell's Paxtu cottage, now a small museum, stands on the grounds of the Outspan Hotel. He and his wife are buried in the town cemetery. About 5 km along the road from the site of Baden-Powell's grave is the Mathari Mission settlement, which was constructed by Italian missionaries at the beginning of the 20th Century. The mission is home to a number of dwellings, stalls and the Consolata hospital and School of Nursing. The hospital provides free care to the people of the surrounding area free of charge, and has a private wing for more wealthy patients. It is staffed largely by nuns of the Consolata order. During the end of 1902, Richard Meinertzhagen marched a strong military column and although he met an equally spirited resistance from the Kikuyu warriors led by Wangombe Wa Ihura, who inhabited the area between Mount Kenya and the Aberdare ranges. The Kikuyu were defeated since their spears and arrows were no match for the European rifles. After Meinertzhagen's victory, a decision was reached to site a British post close to a little hill at the slope of Mt Kenya. On December 18th 1902, Nyeri was born. The post took its name from the little hill. The Kikuyu called the hill Kia-Nyiri while their Maasai neighbors called the hill Na-aier.
Shortly after the establishment of the post, European settlers and missionaries and Indian merchants began to migrate into Nyeri.
Porwolls’ Scouting Pilgrimage to Kenya
June 1999
During our family’s "vacation of a lifetime," a three-week visit to Kenya, we included in our itinerary three Scouting-related diversions in the town of Nyeri that made the trip even more special:
1.Visit to Baden-Powell’s gravesite
2.Tour of "Paxtu," B-P’s last home, at the Outspan Hotel
3.Shopping at the Kenya Scouts Association regional Scout Shop
Nyeri
One of the largest towns in Kenya (the map says its population is between 100,000 and 500,000), Nyeri (pronounced "Near-ee") is the administrative headquarters of the Central Province and one of the liveliest highland towns. A former military camp, it emerged as a market town for European coffee growers in the hills and for settlers on the ranching and wheat farms further north. Located beneath the Aberdare Range, a dense mountain forest home to lion, leopard, bongo, buffalo, rhino, and elephant, Nyeri was on the front line during the war for independence in the 1950s. We found the road leading from Mount Kenya to Nyeri the roughest one of our entire trip, and that’s saying a lot! We recorded the bumping and jostling in the Land Rover for posterity on the VCR; otherwise, no one would believe us.
Of more special interest, Nyeri was also the last home of Robert Lord Baden-Powell, founder of the worldwide Scouting movement, whose Paxtu cottage, now a small museum, stands on the grounds of the Outspan Hotel. The Outspan, with its beautiful gardens, is the stately base of operations for those visiting Treetops, a famous lodge set on stilts in the forest nearby, whose salt-lick and lake attract wild animals for viewing at all times of the day and night. B-P’s grave and memorial are found on the north side of town. (Special thanks to our trusty travel guide, Kenya: The Rough Guide.)
Baden-Powell’s Gravesite
B-P’s final resting place is located on the north side of town, in a small cemetery right off the main road into Nyeri. The entrance is marked by two 6’ tall, white, square, concrete pillars that support a black wrought iron gate. Tall trees border the cemetery, a burial ground for British colonials and others of years gone by.
Upon entering, a left turn takes you to the burial site of approximately 20 British soldiers who died fighting in the Mau Mau rebellion of the ‘50s. A right turn soon takes you to the gravesite of Baden-Powell and his wife Olave. A single white marble headstone marks the spot. At the top left, the Boy Scout fleur-de-lis emblem is etched into the stone, and at the top right, the international Girl Guides (Scouts) emblem. Engraved in black are the memorials:
ROBERT BADEN-POWELL
CHIEF SCOUT OF THE WORLD
22ND FEBRUARY 1857
8TH JANUARY 1941
OLAVE BADEN-POWELL
WORLD CHIEF GUIDE
22ND FEBRUARY 1889
25TH JUNE 1977
A bulls-eye is located at the bottom center of the marker. It represents an old Scout trail sign for "I have gone home."
The headstone faces Mount Kenya, at 5200m (15,600’) the highest peak in the country and second highest in Africa after Mount Kilimanjaro in nearby Tanzania. B-P recounted lovely views of his favorite Mount Kenya from Paxtu, and his gravesite with this view is more than fitting. Unfortunately, on the day of our visit the mountain was lost behind a dry afternoon haze. Like so many other public sites of interest to tourists, the cemetery was accompanied by a local who met us at the site and provided a factual narrative of B-P’s life at Paxtu and his burial site. The man said he was a teacher and a Scout leader, and we tipped him for his knowledge and trustworthiness. He is shown posing in the picture with Matt and Mike.
Paxtu
As the carved cedar plaque affixed to the outside back wall of the cottage indicates, Paxtu was the "cottage [that] was built for Lord Baden-Powell of Gilwell O.M., G.C.M.G., G.C.V.O., K.C.B., founder of the Boy Scout movement who lived here from October 1938 until his death on 8th January 1941." The KSA pamphlet "Paxtu: Baden-Powell’s Home at Nyeri, Kenya" provides an excellent history of the site. Although not dated, it appears to have been printed in the 1960s.
"B-P first visited East Africa - each of the present countries of Kenya, Uganda, and Tanzania - in 1906, and he recorded his impressions both in words and pictures in his book Sketches in Mafeking and East Africa, published in 1907.
"He did not come here again until late in 1935 when he carried out inspections of Scouts at rallies organized throughout the country. He then visited his old friend, Major E. Sherbrooke Walker, M.C., who had been B-P’s first private secretary after the founding of the Boy Scout Movement and who still has in his possession the first Scouter’s Warrant ever issued. After numerous adventures Eric Walker had built the Outspan Hotel in Nyeri and the still more famous Treetops. [The original Treetops burned to the ground in 1955; a larger building has replaced it.] B-P once again fell in love with ‘the wonderful views over the plains to the bold snow peak of Mount Kenya,’ described after his visit in 1906, and so when ordered by his doctor to rest in the winter of 1937 it was to Nyeri that he came.
"’When he left us,’ wrote Eric Walker in his book Treetops Hotel describing B-P’s departure from Kenya in 1938, ‘Lord Baden-Powell was getting on in years.’ (He was, in fact, 81.) ‘The nearer to Nyeri, the nearer to bliss,’ he said, ‘I am coming to spend the rest of my life at the Outspan.’
"’And he asked us to build him a cottage before he came back for what he said was to be the third and last time. He picked a site in the garden. ‘What,’ he said, ‘will it cost to build a little house with a sitting room, a large veranda, two bedrooms, two bathrooms and two fireplaces?’
"’I made a rapid calculation. ‘Twelve hundred square feet at ten shillings per square foot,’ I replied, ‘comes to six hundred pounds.’ (Would that we could build for that cost now!)
"’He accordingly took up shares in our little company to that value, for which we built the house, furnished it, and made him a private garden, gay with flowers, and with a fountain, and bird-bath in front of the veranda. He had a discussion as to what he would call the cottage and thought of a number of names. Finally he said: ‘I named my home at Bentley ‘Pax’ because we bought it on Armistice Day after the First War. [Armistice Day was the day the war ended: November 11, 1918. Pax is the Latin word for "peace."] I think I will call my cottage here ‘Pax,’ too.’
"’After that it was always known as ‘Paxtoo,’ or ‘Paxtu.’ "B-P and Lady B-P had celebrated the twenty-fifth anniversary of their wedding in 1937 and Scouts and Guides all over the world had subscribed for a present for them.
"’We have utilized part of the Silver Wedding gift from Scouts and Guides,’ wrote B-P in The Scouter for May, 1938, ‘in building for ourselves a cottage at Nyeri. We have named it ‘Paxtu,’ since it will be a second ‘Pax’ to us, and a permanent reminder of the generous goodwill of the Movement.’
"In October, 1938, he came back to Nyeri to live in Paxtu, and never left East Africa again.
"A description of the house was given by B-P in a letter to the actor, Cyril Maude, in 1939:-
"’We sit here in incessant sunshine (with showers to water our garden) and never since we came, four months ago, have we failed to have brilliant sunshine for a breakfast on the veranda. I enclose a photo of the shack we had built for us and we find it in every way excellent. Sitting-room in the center with the whole front open, with folding glass doors. On each side of it a bedroom with dressing-room, bath, cloak-room, etc., and servants’ pantry at the back, with a covered way to the hotel 200 yards away, whence come all our meals. We have hot and cold water laid on, with electric light and heating, a delightful garden (much grown up since the photo) and a glorious view across the forest and plain up to Mount Kenya with its snowy top.’ "The cottage remains very much as it was when he first had it built, though the old makuti roof has been replaced by an iron one, and the garden which in recent years had got out-of-hand was rather drastically tidied up in 1964, but the fountain and bird-bath remain. The cottage is now joined to the main block of the hotel with a series of apartments."
Additional insights on B-P at Paxtu can be found on page 412 of Baden-Powell: Two Lives of a Hero by William ("Green Bar Bill") Hillcourt: For the first time in their many married years, B-P and Olave were completely alone together, without the interference and interruption of thousands of people. ‘We are utterly and supremely happy here,’ Olave wrote to her children, ‘and almost every other minute we keep saying to each other how heavenly it is and how lucky we are to be here.’
"For the first time in B-P’s life he was not under pressure of deadlines he must meet, appointments he must keep, conferences her must attend, rallies he must review, of things that needed to be done. When he finally accepted the fact that his enforced retirement was permanent [due to declining health], he pushed all anxiety aside and choked off all qualms of his conscience telling him he must do this and that. He could not be idle, though. When he no longer felt ill, he had a block and paper at his side at all times, so he could scribble things. He established a bird bath and a bird feeder in front of his verandah and spent hours watching the bright-coloured birds that descended on them. He adopted a couple of hyrax as pets and greatly enjoyed their antics.
"When he was well enough again to walk in the garden, to take short motor trips, to spend an occasional night at Tree Tops, he started to write up his experiences with African ‘birds and beasts’ and to make sketches and water-colours of the animals he saw on his excursions. Most of his articles he sent home to England where they were published in The Daily Mail or in The Scout. They were afterwards collected and edited by Eileen Wade and published in book form with reproductions of some of the water-colours: Birds and Beasts in Africa, Paddle Your Own Canoe, and More Sketches of Kenya."
For 100 Kenyan shillings ($1.43) per person, we had the hotel open up Paxtu for a visit. The only rooms open to visitors are the main sitting-room and a tiny alcove immediately to the right of the entry door. The main room is quite small (perhaps 12’ x 12’) and is a shrine to B-P, with Scouting memorabilia of all kinds - especially neckerchiefs and framed photos - hanging from the fireplace mantel and walls. B-P’s old black telephone was resting on a high table stand near the fireplace, and even had a dial tone! One wall included some of B-P’s original pencil illustrations, a real thrill. The alcove was only as large as a good-sized walk-in closet in a new Atlanta house, but its walls also were decorated with interesting memorabilia left as gifts by grateful Scouts and Scouters. Five steps lead from the cottage to the garden, now fashioned in plants and flowers in the Boy Scout and Girl Guide emblems. In the nearly 60 years since B-P’s death, tall trees have grown up at the property line, cutting the view of Mount Kenya (although the haze may have prevented us from seeing it that day.)
In the main sitting-room, I placed on the mantel a red BSA neckerchief with gold embroidered piping on top of a group of 10 other scarves that had been arranged there from Scouts and Scouters from all over the world. The hotel attendant arranged two other neckerchiefs I brought with me (a green one and a black one - with the red one forming the Kenya national colors) on one of the walls. In a scrapbook lying on a center table, I inserted a business card with the notation, "From the Scouts and Scouters of BSA Troop 764, Dunwoody, Georgia," an Atlanta Area Council shoulder patch, and a large oval patch bearing B-P’s likeness and the words, "Boy Scouts of America - Atlanta."
In the guest book, we signed in, and when I turned the page back one page, I was astonished to read an entry made two days prior: "Joe Pugh, Atlanta, Georgia," with the comments: "A Pilgrimage Fulfilled." Joe was one of my instructors for Wood Badge course 92-36!
Of the limited items for sale, we bought the "Paxtu" brochure, two different postcards of B-P’s illustrations, and a Girl Guides patch (white square with red country-map and Girl Guide emblem inside, a giraffe, and the words "Karibuni (Welcome All) Kenya"). It was hard to believe that we were actually here. Prolonging our stay, not to mention feeding a big hunger now that it was 3:00, we ate lunch of pizza and Coke at an outdoor table at the Outspan Hotel.

The Scout Promise
On my honour I promise that I will do my best:-
To do my duty to God, and my Country,
To help other people at all times, and
To obey the Scout Law.

SCOUT LAW
The original Scout law, written by General Baden-Powell, appeared in 1908 and is as follows (sic, capitalization, numbering, etc by Baden-Powell):[1][2][3]
1.A SCOUT'S HONOUR IS TO BE TRUSTED. If a scout says "On my honour it is so," that means it is so, just as if he had taken a most solemn oath. Similarly, if a scout officer says to a scout, "I trust you on your honour to do this," the Scout is bound to carry out the order to the very best of his ability, and to let nothing interfere with his doing so. If a scout were to break his honour by telling a lie, or by not carrying out an order exactly when trusted on his honour to do so, he would cease to be a scout, and must hand over his scout badge and never be allowed to wear it again---he loses his life.
2.A SCOUT IS LOYAL to the King, and to his officers, and to his country, and to his employers. He must stick to them through thick and thin against anyone who is their enemy, or who even talks badly of them.
3.A SCOUT'S DUTY IS TO BE USEFUL AND TO HELP OTHERS. And he is to do his duty before anything else, even though he gives up his own pleasure, or comfort, or safety to do it. When in difficulty to know which of two things to do, he must ask himself, "Which is my duty?" that is, "Which is best for other people?"---and do that one. He must Be Prepared at any time to save life, or to help injured persons. And he must do a good turn to somebody every day.
4.A SCOUT IS A FRIEND TO ALL, AND A BROTHER TO EVERY OTHER SCOUT, NO MATTER TO WHAT SOCIAL CLASS THE OTHER BELONGS. If a scout meets another scout, even though a stranger to him, he must speak to him, and help him in any way that he can, either to carry out the duty he is then doing, or by giving him food, or, as far as possible, anything that he may be in want of. A scout must never be a SNOB. A snob is one who looks down upon another because he is poorer, or who is poor and resents another because he is rich. A scout accepts the other man as he finds him, and makes the best of him -- "Kim," the boy scout, was called by the Indians "Little friend of all the world," and that is the name which every scout should earn for himself.
5.A SCOUT IS COURTEOUS: That is, he is polite to all--but especially to women and children and old people and invalids, cripples, etc. And he must not take any reward for being helpful or courteous.
6.A SCOUT IS A FRIEND TO ANIMALS. He should save them as far as possible from pain, and should not kill any animal unnecessarily, even if it is only a fly---for it is one of God's creatures.
7.A SCOUT OBEYS ORDERS of his patrol-leader, or scout master without question. Even if he gets an order he does not like, he must do as soldiers and sailors do, he must carry it out all the same because it is his duty; and after he has done it he can come and state any reasons against it: but he must carry out the order at once. That is discipline.
8.A SCOUT SMILES AND WHISTLES under all circumstances. When he gets an order he should obey it cheerily and readily, not in a slow, hang-dog sort of way. Scouts never grouse at hardships, nor whine at each other, nor swear when put out. When you just miss a train, or some one treads on your favourite corn---not that a scout ought to have such things as corns--- or under any annoying circumstances, you should force yourself to smile at once, and then whistle a tune, and you will be all right. A scout goes about with a smile on and whistling. It cheers him and cheers other people, especially in time of danger, for he keeps it up then all the same. The punishment for swearing or bad language is for each offence a mug of cold water to be poured down the offender's sleeve by the other scouts.
9.A SCOUT IS THRIFTY, that is, he saves every penny he can, and puts it in the bank, so that he may have money to keep himself when out of work, and thus not make himself a burden to others; or that he may have money to give away to others when they need it.
These were written for the Scouts in the whole world, yet of course firstly focused on Scouting in the United Kingdom. As other groups started up Scouting organizations (often in other countries), each modified the laws, for instance 'loyal to the King' would be replaced by the equivalent text appropriate for each country.
During the years, Baden-Powell himself edited the text numerous times, notably in 1911 adding:
10.A SCOUT IS CLEAN IN THOUGHT, WORD AND DEED. Decent Scouts look down upon silly youths who talk dirt, and they do not let themselves give way to temptation, either to talk it or to do anything dirty. A Scout is pure, and clean-minded, and manly.
The Scout Law Prayer
(This prayer is designed to demonstrate the Scout Law)
Dear Lord, Bless all those everywhere who contribute to shape the hearts, minds and bodies of young people. Let us remember what they have taught and apply it daily.
When facing deceit and dishonesty, let us be Trustworthy.
If we see hypocrisy and faithlessness, let us be Loyal.
Where disregard of others and mere materialism prevail, let us be Helpful.
When we find people in despair, let us be Friendly.
In an atmosphere of ill manner, let us be Courteous.
Where some measure manliness in brutality and crudeness, let us be Kind.
Though lawbreaking and rule-scoffing are common, let us be Obedient.
While others grumble and grouch, let us be Cheerful.
In an environment blighted by waste and extravagance, let us be Thrifty.
When confronted with danger and temptation, let us be Brave.
As we see filth and pollution everywhere, let us be Clean.
While witnessing impiety, let us remember to be Reverent.
In short, in a world that has for generation after generation lamented the lack of good examples, let us, as Scouts, stand out, grow up, and be real adults.
Amen.
The Scouting part of our trip gave me pause to reflect on some very basic aspects of life. It reinforced the magnitude of Scouting throughout the world and the true greatness of the man who started this movement. Who would have thought that a general, who in his time achieved the same stature that Eisenhower did after World War II, would turn his attention when he was in his 50s to a completely new journey -- and create a system to engage boys in purposeful fun at a time when so many were being offered only the mean streets of turn-of-the-century industrial England! To see how this great man lived in such simple, humble accommodations at Paxtu, surrounded by his version of wealth - nature -- provides a stark contrast to our end-of-the-century obsession with material wealth.
If you want to read a book that will truly inspire you, whether you’re in Scouting or not, read Baden-Powell: The Two Lives of a Hero. It’s a great read but hard to find outside of amazon.com. I’ve used it as a gift at Wood Badge award ceremonies.
MOUNT KENYA
Mount Kenya is the highest mountain in Kenya, and the second-highest in Africa (after Mount Kilimanjaro). The highest peaks of the mountain are Batian (5,199 m), Nelion (5,188 m) and Lenana (4,985 m). Mount Kenya is located in central Kenya, just south of the equator, over 100 miles northeast of Nairobi.
The mountain is an extinct (dead) volcano standing alone, which last erupted between 2.6 and 3.1 million years ago. Its slopes include several different biomes; the lowest parts are dry upland forest, changing to montane forest of juniper and podocarpus at about 2,000 m, with a belt of bamboo at 2,500 m that changes to an upper forest of smaller trees covered with moss and "goat's beard" lichen. Above a distinct timberline at about 3,500m (11,000 feet), there is an afroalpine zone, with its characteristic giant rosette plants. Twelve small (and rapidly shrinking) glaciers may be found scattered among the complex of seven named peaks, of which Batian and Nelion are the highest.
The area around the mountain is protected in the Mount Kenya National Park.
The Kĩkũyũ people traditionally held that their supreme being Ngai lived on Mount Kenya, which they call Kirinyaga.
The missionary Johann Ludwig Krapf was the first European to report a sighting of Mount Kenya, in 1849. The first recorded ascent of Mount Kenya was made by Halford John Mackinder, C. Ollier and J. Brocherel on 13 September 1899. The highest point (Batian) is a technical climb; the classic Diamond Couloir climbing route is a Grade IV of about 20 pitches, up to YDS 5.9 in difficulty. Nelion was first climbed by Eric Shipton in 1929, and Shipton and Bill Tilman completed the traverse of the ridge between the two highest peaks. Point Lenana, at 4,985 metres (16,354 ft), can be reached by a hiking trail. Mount Kenya is best climbed in January or February on the south side and August or September on the north side.
Mount Kenya is home to one of the Global Atmosphere Watch's atmospheric monitoring stations.
On July 21, 2003, a South African registered aircraft, carrying 12 passengers and two crew, crashed into Mount Kenya at Point Lenana: nobody survived. This was not the first aircraft lost on the mountain; there is also the wreckage of at least one helicopter that crashed before 1972.

Pengumuman dari APR of Scout Movement

Dear Mr. Rasheed,

The following may be of interest to those involved in the Scouts Movement at universities around the Asia/Pacific region.

Regards, Bart

http://www.adb.org/Media/Articles/2006/10514-regional-essay-competition/




30 August 2006




ADB Launches Student Essay Competition on Asia's Future

MANILA, PHILIPPINES - ADB today called on the young voices of Asia to participate in an essay competition on the topic, “Sustainable Development in Asia and the Pacific.”

The competition, organized by ADB and ROAD, a network of Japanese university students concerned about development issues, is part of an event that will precede ADB’s 40th Annual Meeting, to be held in Kyoto, Japan, in May 2007.

“Young people in Asia and the Pacific need to be fully engaged in order to effectively address the long-term development challenges confronting the region,” said Bindu N. Lohani, Director General of ADB’s Regional and Sustainable Development Department. “The competition provides an opportunity to publicize the vision of today’s youth for the future world in which they will live, work, and govern.”

English-language essays of up to 2,000 words are invited from university students aged 18-29 years who are citizens of ADB’s developing member countries, as well as Japanese students at Japanese universities.

The essays – written from a country or regional perspective – should address one of three specific topics: 1) economic growth and environmental conservation; 2) human resource development and institutions; or 3) industry and infrastructure.

Three development experts will judge the essays on the basis of originality and creativity of thought, structure and coherence of arguments, awareness of sustainable development within the context of the essayist’s environment and realities, and relevance to the competition’s themes.

Fifteen winners will be selected from across ADB’s five regional departments – Central and West Asia, East Asia, the Pacific, South Asia, and Southeast Asia. An additional ten winners will be chosen from among students at Japanese universities, including seven from developing member country students and three Japanese citizens.

All 25 winners will be invited to actively participate in the week-long Asian and Pacific Youth Forum on Sustainable Development in Kyoto in March 2007. The Forum will provide them the chance to deliberate on sustainable development issues. The event will conclude with adoption of a Youth Statement on Sustainable Development, which will be presented at ADB’s 40th Annual Meeting. In addition, the winning essays will be assembled and published in a book.

Essays must be submitted online. Those without access to the Internet can submit their essays to the nearest ADB field office. Deadline for entries is 31 October 2006.

The competition is being financed by the Japan Special Fund, which was established in coordination with the Government of Japan to provide financial support for ADB's technical assistance programs, and is administered by ADB.





Bart W. Edes
Head, NGO and Civil Society Center
Asian Development Bank
Tel (632) 632-5293
www.adb.org

Ketua Gerakan Pramuka Terima Penghargaan Pandu Asia-Pasifik

Siaran Pers
No. 72 /HK-X/2007


Tokyo, Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka, Prof.Dr.dr. Azrul Azwar, MPH, menerima penghargaan dari Kepanduan Asia-Pasifik. Penghargaan yang diberi nama Asia-Pacific Region (APR) Scout Chairman's Award itu dianugerahkan kepada Kak Azrul, panggilan akrabnya, pada penutupan Konferensi Kepanduan Asia-Pasifik di Tokyo, Jepang, Selasa (23/10) petang.

Selain itu, Gerakan Pramuka juga memperoleh penghargaan sebagai pemenang pertama Kompetisi Foto Kepanduan Asia-Pasifik 2007. Saiko Damai, staf Biro Humas dan Abdimas Kwarnas Gerakan Pramuka, berhasil mengabadikan upaya para pramuka yang sedang menolong mengangkat jenazah korban bencana alam gempa bumi dan tsunami di Aceh pada akhir Desember 2004.

Karya Kak Eko, panggilan akrab Saiko Damai, sesuai penilaian dewan juri yang diketuai fotografer profesional asal Jepang, tak kalah nilai beritanya dari kaya para wartawan foto yang profesional. Karya Kak Eko bahkan disebut sebagai salah satu karya foto jurnalistik kepanduan yang memiliki nilai dan mutu tinggi.

Pada Konferensi Kepanduan Asia-Pasifik di Tokyo itu, Gerakan Pramuka juga berhasil menempatkan sejumlah anggotanya menjadi anggota Subkomite Kepanduan Asia-Pasifik masa bakti 2007-2009. Mereka adalah Alfian Amura, Susi Yuliati, Berthold Sinaulan, Dicky Surjadi, Brata Triyana, dan Rio Ashadi. Selain itu, Paulus Tjakrawan, yang merupakan salah satu pengurus subkomite masa bakti 2001-2004, juga dipilih menjadi anggota APR Foundation Committee. Berthol DH Sinaulan, Pb. Annas



Jakarta, 25 Oktober 2007



Informasi lebih lanjut hubungi :

1. Karo Abddimas dan Humas, Septembri Yanti, 021-3507645, pst 2209
2. Kabag Humas, Saiko Damai, 0813-1076900, E-mail: saiko_damai@yahoo.com
3. E-mail Kwarnas: kwarnas@pramuka.or.id, dan kwarnas@centrin.net.id

Good Luck Persekutuan Pengakap Malaysia!

Siaran Pers
No. 71 /HK-X/2007


Tokyo, Belakangan ini, sering terdengar kabar mengenai kurang baiknya hubungan antardua negara tetangga, Indonesia dan Malaysia. Pihak Malaysia, seperti diberitakan di media massa, berlaku kurang baik terhadap saudaranya dari Indonesia. Wasit karate Indonesia sempat masuk rumah sakit, lantaran dipukuli sejumlah petugas kepolisian Malaysia, hanya karena sang wasit dicurigai sebagai pendatang ilegal. Demikian pula, istri diplomat dari Kedutaan Besar RI di Malaysia, sempat ditahan. Lagi-lagi disangka sebagai pendatang ilegal.

Belum lagi pemberitaan mengenai sejumlah tenaga kerja wanita asal Indonesia yang disiksa majikannya di Malaysia. Pun demikian dengan beberapa karya seni, seperti batik dan lagu Rasa Sayange yang dijadikan promosi pariwisata Malaysia. Ah, gara-gara semua itu, persahabatan antara dua negara menjadi terganggu.

Secara jujur, sebagai warga negara Indonesia, penulis juga terusik dengan hal-hal tersebut. Bagaimana pun, kecintaan penulis sebagai warga Republik Indonesia, membuat penulis menjadi kurang senang dengan sejumlah hal tersebut. Namun secara pribadi, persahabatan penulis dengan beberapa rekan dari Malaysia, tetap terjalin dengan baik.

Salah satunya dengan para pengakap, sebutan untuk pramuka, di Malaysia. Sudah sejak lama penulis berkenalan dan bersahabat dengan rekan-rekan Persekutuan Pengakap Malaysia (PPM). Persahabatan yang semakin kental sejak penulis sebagai anggota Gerakan Pramuka mengikuti lokakarya kehumasan kepanduan Asia-Pasifik bertajuk Asia-Pacific Region (APR) Workshop on Public Relations, yang diadakan di Hotel Nikko, Kuala Lumpur, Malaysia, pada Agustus 1997.

Saat itu, penulis berkenalan dengan Ketua Subkomite Public Relations Kepanduan Asia-Pasifik, Ku Bahadur bin Ku Baharum, yang berasal dari Malaysia. Penulis juga berkenalan dengan sejumlah tokoh PPM, seperti Eric Khoo yang kemudian menjadi Ketua Komite Kepanduan Asia-Pasifik masa bakti 2004-2007. Lalu ada juga Dato' Kaharudin bin Momin, Geoffrey Teo, Radzwan bin Hussain, Dr Mukhyuddin bin Sarwani, dan banyak lagi.

Semuanya merupakan sahabat yang menyenangkan. Lebih dari itu, semuanya adalah saudara dalam dunia kepanduan, sebagaimana seorang pandu harus selalu menjiwai semangat persaudaraan (brotherhood) antarpandu dan sesama manusia, tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras, dan antargolongan.

Sejak saat itu, penulis beberapa kali mengikuti kegiatan kepanduan di Malaysia. Pada 2000 misalnya, penulis menjadi peserta APR Public Relations-Information Technology Workshop di Kuching, Sarawak, Malaysia. Penulis masih mengenang, Geoffrey Teo yang memang berasal dari Sarawak dibantu teman-temannya, membuat semua peserta mendapat kenangan indah seusai acara itu. Di samping mengikuti lokarya, hampir setiap kesempatan, peserta selalu diundang mengikuti jamuan makan yang selalu lezat dan mengenyangkan. Belum lagi kunjungan ke objek wisata melihat aktivitas "orang asli' dan kebudayaan setempat di sana.

Belakangan, penulis sempat pula berkenalan dengan Ketua Pengakap Negara Dato' Seri Dr Haji Shaife bin Haji Mohd Salleh dan Ketua Pesuruhjaya Pengakap Negara Dato' Haji Kamarudin bin Haji Kachar. Walaupun keduanya merupakan tokoh penting, namun selalu ramah pada siapa pun. Dato' Haji Kamarudin bin Haji Kachar yang akrab dipanggil dengan Dato' KK bahkan sering menyampaikan anekdot-anekdot lucu yang menghibur. Dato' KK juga terampil memainkan biola, dan tak segan memainkan lagu untuk menghibur para pandu lainnya. Penulis bahkan pernah berkunjung ke rumah Dato' KK di Malaysia, yang disambut dengan tangan terbuka dan makan malam yang menyenangkan. Di Jakarta, penulis juga pernah berkunjung ke rumah anak dari Dato' KK yang kebetulan bekerja di Jakarta. Di situ pun penulis disambut hangat.

Di luar mereka, penulis perlu menyebut secara khusus Radzwan bin Hussain. Kak Radzwan, begitu penulis memanggilnya, menjadi sahabat akrab penulis. Istri penulis bahkan sempat diundang menginap di rumahnya, yang disambut hangat oleh istri Kak Radzwan. Anak perempuan dan cucu Kak Radzwan, bahkan berteman akrab dengan istri penulis.

Setiap kali Kak Radzwan dan istri ke Jakarta, penulis dan istri berusaha menyempatkan diri menemui mereka. Demikian pula ketika penulis dan istri ke Kuala Lumpur, Kak Radzwan dan istri bahkan dengan senang hati menjemput langsung ke Bandar Udara KLIA.

Begitulah, persahabatan dan persaudaraan penulis dengan sesama pandu dari PPM. Sebagai pandu, kami memang selalu bersahabat. A scout is a brother to others, begitu janji pandu. Maka ketika penulis berkesempatan mengikuti Konferensi Kepanduan Asia-Pasifik ke-22 di Tokyo, Jepang, sungguh berbahagia bisa bertemu dengan sahabat-sahabat dari PPM.

Tak heran pula, penulis dan juga seluruh anggota delegasi Gerakan Pramuka, mendukung penuh keinginan PPM untuk menjadi tuan rumah Konferensi Kepanduan Asia-Pasifik ke-23 yang akan diadakan di Kuala Lumpur, pada 2009. Good luck Persekutuan Pengakap Malaysia! Berthold DH. Sinaulan, Pb. Annas



Jakarta, 24 Oktober 2006



Informasi lebih lanjut hubungi :

1. Karo Abddimas dan Humas, Septembri Yanti, 021-3507645, pst 2209
2. Kabag Humas, Saiko Damai, 0813-1076900, E-mail: saiko_damai@yahoo.com
3. E-mail Kwarnas: kwarnas@pramuka.or.id, dan kwarnas@centrin.net.id

Malaysia Tuan Rumah Konferensi Pandu Asia-Pasifik 2009

Siaran Pers
No. 70 /HK-X/2007


Tokyo, Malaysia terpilih sebagai tuan rumah Konferensi Kepanduan Asia-Pasifik ke-23 yang akan diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 2009. Selain itu, Nepal akan menjadi tuan rumah Pertemuan Tingkat Tinggi Pemimpin Pandu Asia-Pasifik yang akan diadakan di Kathmandu, Nepal, pada 2008.

Hal-hal itu merupakan bagian dari acara Konferensi Kepanduan Asia-Pasifik ke-22 di Tokyo, Jepang, Senin (22/10) siang hingga petang harinya.

Dalam acara Senin itu, delegasi Gerakan Pramuka menyampaikan paparan mengenai pentingnya bakti pramuka untuk masyarakat luas, yang selama ini telah dilakukan Gerakan Pramuka sejak awal 1960-an. Dimulai dengan Perkemahan Wirakarya 1968 di Cihideung, Jawa Barat, kegiatan yang dalam bahasa Inggris disebut Community Development Camp (Comdeca) itu kini telah menyebar ke seluruh dunia. Bahkan dalam Comdeca Asia-Pasifik di Bangladesh akhir 2007, Susi Yuliati, wakil Gerakan Pramuka juga diminta menjadi penasehat kegiatan itu.

Sementara itu, dalam acara konferensi Selasa (23/10) pagi, diumumkan nama-nama ketua dan anggota subkomite Kepanduan Asia-Pasifik masa bakti 2007-2009. Nama anggota Gerakan Pramuka yang masuk adalah Alfian Amura (Subkomite Youth Programme), Susi Yuliati (Subkomite Adult Resources), Berthold Sinaulan (Subkomite Management), Dicky Surjadi (Subkomite Financial Resources), dan Brata Triyana (Subkomite Scouting's Profile), serta Rio Ashadi (Young Adult Member yang menjadi anggota Subkomite Scouting's Profile. Berthol DH. Sinaulan, Pb. Annas

Jakarta, 23 Oktober 2006



Informasi lebih lanjut hubungi :

1. Karo Abddimas dan Humas, Septembri Yanti, 021-3507645, pst 2209
2. Kabag Humas, Saiko Damai, 0813-1076900, E-mail: saiko_damai@yahoo.com
3. E-mail Kwarnas: kwarnas@pramuka.or.id, dan kwarnas@centrin.net.id

Kepanduan Perlu Mandiri

Siaran Pers
No. 69 /HK-X/2007


Tokyo, Gerakan dan organisasi kepanduan di mana pun berada, perlu untuk menjadi mandiri dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatannya. Untuk itu, Komite Kepanduan Asia-Pasifik telah membentuk Asia-Pacific Regional Scout Foundation Management.

Dalam Konferensi Kepanduan Asia-Pasifik ke-22 di Tokyo, Jepang, Selasa (23/10) pagi, diumumkan nama pengurus manajemen yayasan kepanduan itu. Yayasan yang diketuai Eric Khoo (Malaysia) dan Wakil Ketua Zainal Abidin (Brunei Darussalam), mempunyai lima anggota. Salah satunya Paulus Tjakrawan dari Gerakan Pramuka, Indonesia. Selain Paulus, anggota lainnya adalah dari Hong Kong, Korea, Selandia Baru, dan Jepang.

Sekretaris untuk Asia-Pasific Regional Scout Foundation Management Committee adalah Direktur Regional Biro Kepanduan kawasan Asia-Pasifik, Abdullah Rasheed. Kepengurusan juga dilengkapi dengan investment team yang terdiri Paul Ho (Hong Kong), Jonathan Karlovsky (Australia), dan Sonny Kim Seung Su (Korea). Berthol DH Sinaulan, Pb. Annas



Jakarta, 23 Oktober 2007



Informasi lebih lanjut hubungi :

1. Karo Abddimas dan Humas, Septembri Yanti, 021-3507645, pst 2209
2. Kabag Humas, Saiko Damai, 0813-1076900, E-mail: saiko_damai@yahoo.com
3. E-mail Kwarnas: kwarnas@pramuka.or.id, dan kwarnas@centrin.net.id

Sambutan Hangat Warga Chiba

Siaran Pers
No. 68 /HK-X/2007


Tokyo, Warga Chiba, Jepang, menyambut hangat para peserta Konferensi Kepanduan Asia-Pasifik ke-22 yang berkunjung ke kawasan itu, Minggu (22/10) petang. Para peserta konferensi yang datang dari 23 negara di Asia-Pasifik ditambah dengan sejumlah utusan kepanduan dari negara-negara di luar Asia-Pasifik, disambut gembira oleh warga Chiba, termasuk Wali Kota Chiba yang datang langsung menyambut para peserta.

Para peserta selama sehari penuh pada Minggu (22/10), mengadakan educational tour berkunjung ke sejumlah tempat. Termasuk ke Tokyo Tower, yang merupakan imitasi dari Menara Eiffel di Paris, dan ke pabrik kecap Kikkoman, yang juga memproduksi saus tomat dengan merek Del Monte.

Di bumi perkemahan Chiba, selain disambut oleh Wali Kota Chiba, para peserta termasuk peserta dari Gerakan Pramuka Indonesia, disambut dengan permainan musik dari para pramuka cilik di Chiba.

Peserta juga disuguhi dengan tarian dan permainan samurai oleh sejumlah "pendekar" samurai asal Chiba. Para peserta juga dapat menyaksikan metode pembuatan mie soba, yang ditampilkan khusus oleh chef berpengalaman dari Chiba.

Peserta puas. Warga Chiba menyambut hangat, dan di akhir acara para peserta memberikan tepuk tangan panjang untuk sambutan yang hangat itu. Berthold DH Sinaulan/Pb. Annas



Jakarta, 22 Oktober 2006



Informasi lebih lanjut hubungi :

1. Karo Abddimas dan Humas, Septembri Yanti, 021-3507645, pst 2209
2. Kabag Humas, Saiko Damai, 0813-1076900, E-mail: saiko_damai@yahoo.com
3. E-mail Kwarnas: kwarnas@pramuka.or.id, dan kwarnas@centrin.net.id

Wali Kota Makati Ketua Komite Pandu Asia-Pasifik

Siaran Pers
No. 67 /HK-X/2007


Tokyo, Jejomar C Binay, Wali Kota Makati City yang berada di dalam wilayah Metro Manila, Filipina, terpilih sebagai Ketua Komite Kepanduan Asia-Pasifik masa bakti 2007-2009. Mendampingi Binay, terpilih dua wakil ketua, Muhammad Khalid (India) dan Tan Chee Kiong (Singapura). Demikian diumumkan pada acara Konferensi Kepanduan Asia-Pasifik di Tokyo, Jepang, Sabtu (20/10) pagi.

Binay sebelumnya pernah pula menjadi anggota Komite Kepanduan Asia-Pasifik. Namun sesuai peraturan, sesudah dua masa bakti (periode) menjabat, anggota komite tidak dapat terpilih lagi. Baru setelah diganti, pada periode berikutnya, yang bersangkutan dapat mencalonkan diri kembali.

Dalam konferensi di Jepang kali ini, Binay merupakan salah satu pilihan dari delegasi Gerakan Pramuka, yang memberikan suaranya secara penuh kepada tokoh pandu Filipina itu. Selain kepada Binay, Indonesia juga mendukung tokoh-tokoh pandu sesama negara Asia Tenggara, seperti Dr Mukhyuddin Sarwani dari Malaysia dan Prakob dari Thailand. Keduanya juga terpilih menjadi anggota Komite Kepanduan Asia-Pasifik.

Pada konferensi kali ini, Gerakan Pramuka memang tidak mencalonkan anggotanya untuk menjadi anggota Komite Kepanduan Asia-Pasifik. Walaupun demikian, kiprah Gerakan Pramuka di tingkat Asia-Pasifik tetap diakui oleh semua anggota kepanduan di kawasan Asia-Pasifik.

Indonesia mendapat pujian telah berhasil membantu korban bencana alam gempa bumi dan tsunami di Aceh dan Nias. Program Community Development Camp (Comdeca) yang diselenggarakan para pramuka Indonesia selama sebulan penuh dari 14 Agustus sampai 14 September 2005, mendapat apresiasi tinggi dari para pandu Asia-Pasifik.

Sebelumnya, Gerakan Pramuka juga dipuji karena merupakan salah satu kelompok pertama yang datang ke daerah paling parah terkena tsunami di Aceh. Bersama dengan kelompok lain, para anggota Gerakan Pramuka membantu korban bencana alam itu.

Di luar itu, program kegiatan kepramukaan bagi anak jalanan lewat proyek yang diberi nama Ticket to Life, juga mendapat sambutan hangat para peserta konferensi. Gerakan Pramuka merupakan satu dari sejumlah organisasi kepanduan di Asia-Pasifik yang membantu anak-anak jalanan mendapat kesempatan hidup yang lebih baik. Berthold DH Sinaulan/Pb. Annas



Jakarta, 20 Oktober 2006



Informasi lebih lanjut hubungi :

1. Karo Abddimas dan Humas, Septembri Yanti, 021-3507645, pst 2209
2. Kabag Humas, Saiko Damai, 0813-1076900, E-mail: saiko_damai@yahoo.com
3. E-mail Kwarnas: kwarnas@pramuka.or.id, dan kwarnas@centrin.net.id

Pramuka Dapat Penghargaan

Siaran Pers
No. 66 /HK-X/2007

Tokyo, Tarian Kabuki yang lambat namun mempesona dan pukulan gendang yang bertalu-talu, menjadi bagian dari acara pembukaan Konferensi Kepanduan Asia-Pasifik ke-22 di Tokyo, Jepang, Kamis (18/10) sore. Pembukaan itu juga dihadiri oleh Pangeran dan Putri Akishino sebagai tamu kehormatan di acara para pandu se Asia-Pasifik itu.

Pada acara itu, Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Prof.Dr.dr. Azrul Azwar MPH memperoleh penghargaan berupa Silver Hawk Award, penghargaan tertinggi Scout Association of Japan (SAJ). Selain Kak Azrul, panggilan akrabnya, Sekretaris Jenderal Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, dr. Joedyaningsih, juga mendapat penghargaan International Friendship Award.

Pada acara sebelumnya, Ketua Dewan Kerja Nasional Rio Ashadi, terpilih sebagai salah satu Young Adult Member Group, suatu wadah untuk kaum muda (16-25 tahun) untuk berkiprah di kepanduan Asia-Pasifik. Berthold DH. Sinaulan/Pb. Annas

Jakarta, 19 Oktober 2006



Informasi lebih lanjut hubungi :

1. Karo Abddimas dan Humas, Septembri Yanti, 021-3507645, pst 2209
2. Kabag Humas, Saiko Damai, 0813-1076900, E-mail: saiko_damai@yahoo.com
3. E-mail Kwarnas: kwarnas@pramuka.or.id, dan kwarnas@centrin.net.id

Kamis, 01 November 2007

BANGSA TANPA INTEGRITAS

Carut marut di berbagai aspek kehidupan bangsa yang terjadi di negara Indonesia tercinta, sampai saat ini tak kunjung berakhir. Berbagai cara dan upaya dari pemegang otoritas kekuasaan telah dilakukan, dengan membuat kebijakan-kebijakan yang mengarah kepada perbaikan, mengoptimalkan kinerja aparat hukum dan segala hal yang berkaitan dengan upaya memperbaiki kondsisi bangsa yang mengalami krisis multi dimensi.

Komitmen pemerintah untuk memberantas korupsi diwujudkan dengan mengoptimalkan lembaga-lembaga penyidik seperti KPK, BPK, KEJAKSAAN AGUNG, dan POLRI bahkan dibentuk TIMNAS TIPIKOR dalam upaya mengungkap dan menangkap para koruptor sampai pada tahap mengantarkan mereka ke pengadilan, bahkan diantara mereka saat ini sudah ada yang menikmati indahnya hotel prodeo, walaupun ganjaran yang diberikan tidak sebanding dengan kesengsaraan rakyat yang ditimbulkan oleh perbuatannya.

Dibidang ekonomi, para pembuat kebijakan berupaya membuat regulasi yang memberi kemudahan bagi para investor untuk menanamkan modalnya di negeri ini agar tercipta lapangan kerja bagi jutaan rakyat yang berstatus pengangguran. Kemudian ada juga kebijakan yang dibuat untuk membangkitkan para pengusaha kecil dan menengah dalam bentuk kemudahan memperoleh kredit dari perbankan, yang salah satunya melalui penjaminan kredit oleh dua lembaga keuangan milik negara sehingga pengusaha kecil yang tidak mempunyai agunan yang memadai tetap bisa memperoleh kredit untuk mengembangkan usahanya. Dan masih banyak kebijakan atau regulasi lain yang pada intinya bertujuan untuk memperbaiki keadaan bangsa ini.

Namun dalam kenyataannya, kebijakan yang sedemikian ideal dan terlihat begitu indah dan menjanjikan, secara umum sampai saat ini tidak menjadikan bangsa ini lebih baik dari sebelumnya. bahkan banyak oknum yang memanfaatkan kebijakan yang sebetulnya baik itu justru dijadikan alat untuk meraih keuntungan pribadi dengan mengorbankan orang banyak. Contoh kecil saja yang paling nyata dan yang sering kita temui, ketika ada kebijakan baru untuk memperberat hukum denda bagi para pengguna jalan raya yang melanggar aturan lalulintas, justru dimanfaatkan betul oleh para oknum petugas polantas untuk menaikkan tarif damai tanpa proses hukum yang benar. Dan masih banyak segudang contoh lain yang mengindikasikan betapa kebijakan dan regulasi yang dibuat oleh pemegang otoritas tidak di implementasikan dengan baik di lapangan, Sehingga patutlah kita bercermin, betapa buramnya wajah bangsa ini.

KEHILANGAN INTEGRITAS

Kompetensi tanpa Integritas hanya akan memberikan mudharat daripada menfaat. Untuk itu saya meyakini dengan sepenuh hati bahwa INTEGRITAS merupakan keniscayaan yang harus dimiliki oleh siapapun yang ingin meraih sukses sejati. Mari kita bangun Integritas diri, untuk kemudian kita tularkan kepada orang-orang yang ada di sekeliling kita . . !
Dengan Integritas yang tinggi, Semoga kita menjadi bangsa yang bermartabat .
Ridwan Fadil
Trainer IHSAN CHARACTER DEVELOPMENT PROGRAM
REKSA LEADERSHIP CENTRE
Jl. Jatinegara Timur No. 107 G, Jakarta Timur 13310
Tlp. 021- 850 3310 (hunting), Fax: 021 - 850 343
Email : ridwan.reksa@yahoo.co.id
www.reksa.net
HP: 081317212141

BANGSA TANPA INTEGRITAS

BANGSA TANPA INTEGRITAS

Carut marut di berbagai aspek kehidupan bangsa yang terjadi di negara Indonesia tercinta, sampai saat ini tak kunjung berakhir. Berbagai cara dan upaya dari pemegang otoritas kekuasaan telah dilakukan, dengan membuat kebijakan-kebijakan yang mengarah kepada perbaikan, mengoptimalkan kinerja aparat hukum dan segala hal yang berkaitan dengan upaya memperbaiki kondsisi bangsa yang mengalami krisis multi dimensi.

Komitmen pemerintah untuk memberantas korupsi diwujudkan dengan mengoptimalkan lembaga-lembaga penyidik seperti KPK, BPK, KEJAKSAAN AGUNG, dan POLRI bahkan dibentuk TIMNAS TIPIKOR dalam upaya mengungkap dan menangkap para koruptor sampai pada tahap mengantarkan mereka ke pengadilan, bahkan diantara mereka saat ini sudah ada yang menikmati indahnya hotel prodeo, walaupun ganjaran yang diberikan tidak sebanding dengan kesengsaraan rakyat yang ditimbulkan oleh perbuatannya.

Dibidang ekonomi, para pembuat kebijakan berupaya membuat regulasi yang memberi kemudahan bagi para investor untuk menanamkan modalnya di negeri ini agar tercipta lapangan kerja bagi jutaan rakyat Indonesia yang berstatus pengangguran. Kemudian ada juga kebijakan yang dibuat untuk membangkitkan para pengusaha kecil dan menengah dalam bentuk kemudahan memperoleh kredit dari perbankan, yang salah satunya melalui penjaminan kredit oleh dua lembaga keuangan milik negara sehingga pengusaha kecil yang tidak mempunyai agunan yang memadai tetap bisa memperoleh kredit untuk mengembangkan usahanya. Dan masih banyak kebijakan atau regulasi lain yang pada intinya bertujuan untuk memperbaiki keadaan bangsa ini.


Namun dalam kenyataannya, kebijakan yang sedemikian ideal dan terlihat begitu indah dan menjanjikan, secara umum sampai saat ini tidak menjadikan bangsa ini lebih baik dari sebelumnya. bahkan banyak oknum yang memanfaatkan kebijakan yang sebetulnya baik itu justru dijadikan alat untuk meraih keuntungan pribadi dengan mengorbankan orang banyak. Contoh kecil saja yang paling nyata dan yang sering kita temui, ketika ada kebijakan baru untuk memperberat hukum denda bagi para pengguna jalan raya yang melanggar aturan lalulintas, justru dimanfaatkan betul oleh para oknum petugas polantas untuk menaikkan tarif damai tanpa proses hukum yang benar. Dan masih banyak segudang contoh lain yang mengindikasikan betapa kebijakan dan regulasi yang dibuat oleh pemegang otoritas tidak di implementasikan dengan baik di lapangan, Sehingga patutlah kita bercermin, betapa buramnya wajah bangsa ini.

Salah satu jawaban atas kondisi ini adalah : KEHILANGAN INTEGRITAS

Kompetensi tanpa Integritas hanya akan memberikan mudharat daripada menfaat. Untuk itu saya meyakini dengan sepenuh hati bahwa INTEGRITAS merupakan keniscayaan yang harus dimiliki oleh siapapun yang ingin meraih sukses sejati.

Mari kita bangun Integritas diri, untuk kemudian kita tularkan kepada orang-orang yang ada di sekeliling kita . . !
Dengan Integritas yang tinggi, Semoga kita menjadi bangsa yang bermartabat .


Salam IHSAN . . !


Ridwan Fadil
Trainer IHSAN CHARACTER DEVELOPMENT PROGRAM
REKSA LEADERSHIP CENTRE
Jl. Jatinegara Timur No. 107 G, Jakarta Timur 13310
Tlp. 021- 850 3310 (hunting), Fax: 021 - 850 3437
Email : ridwan.reksa@ yahoo.co. id
www.reksa.net
HP: 081317212141


The Best

The Best
Terima Kasih Bu atas semuanya

D Bindap